Laman

Selasa, 04 April 2017

April Girls... Abadilah Sepanjang Masa

April Moment 2013, selalu ada cara mengekspresikan bday party
Selamat Datang April... bulan yang selalu kutunggu kedatangannya, berbagai momen bahagia ada disana, mulai dari Family Birthday (bayangin aj mulai dari tanggal 2,7,13,14,15,20 sama 28 ada yang ultah. Deret tanggal diatas diisi oleh kakak, ponakan, ipar, papa, dan tentunya saya sendiri, hehe...), juga temen2 deket juga banyak yang ultah di bulan ini, bayangin kalau lagi dapet traktiran makan, full sudah jadwalnya.
Kedekatan kami tak sebatas sahabat, tapi seperti keluarga
(Tati, Aq n my Mom)

Semua orang pasti punya kisah tersendiri tentang perjalanan hidupnya, suka duka yang dialaminya, pertemanan dan persahabatan yang terjalin, iy kan Silviana Noerita?

Kali ini aku ingin menceritakan tentang persahabatan kami, antara Aku, Eka Dewi  dan Kantati..
Kami berasal dari latar belakang yang berbeda, Agama yang berbeda, Suku dan bahasa pun beda, yang pada akhirnya kami bisa menjadi satu keluarga, bukan cuma tentang kami bertiga, tapi juga dengan keluarga kami.

Aku mengenal Eka Dewi beberapa tahun silam, tepatnya pertengahan tahun 2004, saat itu kami sama-sama ada kegiatan di gedung ungu.
Eka merupakan kakak 14 hari buatku, kami lahir dihari, bulan dan tahun yang sama, hanya terpaut 14 hari saja. Awalnya pertemanan seperti biasa, berbicara ala kadarnya, selesai kegiatan, kami kembali ke kehidupan kami masing-masing. Tapi pertemanan itu menjadi lebih intens tatkala kami memutuskan untuk kost ditempat dan kamar yang sama. Aktivitas sehari2 pun sering kami lakukan bersama. Tak ada lagi rasa canggung. Meskipun kami bekerja di tempat yang sama, namun eka ga pernah kena jatah shift, tidak seperti aku.
Kedekatan kami tak sebatas sahabat, tapi seperti keluarga
(Eka, Ibunya Eka, dan
Sedangkan Kantati, aku berkenalan dengannya saat sama2 menjadi mahasiswa konversi di UNRIKA, banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Project terbesar kami disana saat kami menerima tantangan untuk membuat semacam Opera dalam rangka mengisi acara Disnatalis Fakultas Ekonomi tahun 2013. Alhamdulillah misi kami berhasil. Kolaborasi kami dengan mahasiswa reguler berjaya di malam Puncak. Lokomotif (lakon anak ekonomi kreatif). Aku sebagai penulis skenario + sutradara, Tati sbg sutradara, menjadikan UK11 (Unrika Konversi Tahun 2011) menjadi angkatan yang berbeda dibanding angkatan konversi lainnya. Alhamdulillah...
Jika Eka kakak 14 hari buatku, Tati merupakan adek 2 tahun 2 hari bagiku.

Tidak cuma sebatas Aku dan Eka ataupun Aku dan Tati saja, tapi aku mencoba menyatukan teman dari berbagai momen, yang pada akhirnya kami bertiga menjadi lebih dekat satu sama lainnya. Aku tak lg harus bimbang disaat keduanya mengagendakan jalan pada waktu yang bersamaan, karena mereka pun bisa melebur seakan jauh sebelum aku mengenalkan, mereka sudah berteman lebih dulu.
Foto diambil di Pulau Kemaro Palembang, April 2013 saat Eka
liburan ke kampung halamanku

Selalu ada cara untuk "April Moment", mulai dari tuker-tukeran kado, saling traktir makan, sampe foto bareng distudio untuk mengabadikannya.
Ntahlah...apakah tahun ini kami bisa mengabadikan moment kami bersama, mengingat keberadaan kami yang tak lagi disatu kota. Tati di Jakarta, Eka di Batam, dan Aku sendiri terdampar di Pulau...
Berharap ada jalan agar pertengahan April ini aku bisa meluncur ke Batam untuk ikut merasakan, mendoakan sekaligus hadir di momen sakral saudara 14 hariku, tapi aku tak bisa menjanjikan apapun, karena cuti ku yang sudah habis saat aku sakit Maret kemaren.
Aku hanya bisa berharap, masih ada jalan untuk mewujudkan mimpi itu, sekaligus bisa menjadikan kado terindah untuknya dihari bahagianya. semoga Tuhan mendengar pintaku.
25 Juli 2015, mereka hadir dihari bahagiaku...



26 Juli 2015, bahagia bersama mereka...

Kamis, 30 Maret 2017

Berburu kuliner saat turun kota...

Tinggal d pulau dengan menu keterbatasan bahan pangan, khususnya klo lagi musim utara datang, hmm... alamat dilanda bosan dengan konsumsi makanan itu-itu aj. So, saat turun kota biasanya Aq berburu kuliner sesuai dengan selera, he he...
Ntah kenapa, kepulangan kali ini serasa pengen mengulang masa lalu, maklum saja, beberapa kuliner diantaranya nyaris sudah lama sekali tidak pernah dicicipi lg.
Mba Dian Fernanda pengen tau apa aj yg diburu? yuk Mari...

Sup Tulang
 1. Sup Tulang di RM. Cirebon Jl. Kartini Sekupang
Sebenernya terakhir kali kesini waktu masih kerja sebagai kru Pemantau Isi Siaran di KPID Kepri, sekitar tahun 2013. Rasany yg khas membuatku yg selama ini susah makan, alias makan dengan porsi kucing, ntah kenapa saat menyantap menu yg satu ini bisa membangkitkan selera makan, he he...

Es Krim
 2. Es Krim di DC Mall
Sebenernya yg namanya es krim mau mo bentuknya keq mana aj, ttp aja di lahap, tapi Karena penyajian yg unik dgn harga yg cukup murah, membuatku tergoda, padahal waktu itu lg kena sindrom malas makan, alhasil suami makan besar, Aq cukup puas dengan es krim yg tersaji.

Ayam Sambel Ijo Podomoro
 3. Ayam Sambel Ijo Podomoro Nagoya.
Nah... klo yang satu ini jadi menu wajib tiap turun kota, alias udah kecanduan, he he... cuma berhubung kali ini ada larangan makanan terlalu pedas, jadi diakali dengan menambahkan kecap manis biar rasanya ga pedas2 amat. sebenernya mereka punya beberapa cabang, tapi ttp aj yg selalu ditongkrongin yang di lokasi Nagoya dekat Dana Graha, ataupun yg di batuaji klo pas darurat udah pengen makan banget, tapi ga bisa ke nagoya.

4. Ayam Bakar Taliwang dibelakang Telkom Pelita
Sayangnya saking semangatnya menyantap kuliner yang disajikan, aq sample lupa fotoin, udah licin... baru keinget klo ni menu lupa di dokumentasi.
ada stori, saat pulkam k kampung halaman (dulu sih judulny mo pulang abis, kagak taunya udah keminum air batam jadi balek lagilah...), pas pengen banget makan menu yg satu ini, sample bela2in minta dikirimi waktu kakak pulkam. ga taunya Karena si kakak buru2 ke gate mo masuk pesawat, si ayam taliwang malah ketinggalan di ruang tunggu, emg blm rezeki kali ya...

Kwetiau Seafood Goreng
5.KwetiauGoreng Sebenerny klo yg satu ini menu yg gampang dicari, dimana2 pasti ada, cuma pas pulang kali ini pengen bgt makan di kedai kopi yg disamping aviari plaza. jaman kuliah sering banget mampir kesini, alhamdulillah... meski terakhir coba sekitar tahun 2010, ternyata rasany g berubah, emg si koko bener2 jaga rasa.

yoghurt n donat jco
6. Yoghurt n Donat Jco
ntah karena lg ngidam, ago emg udah lama g ngerasain, jadiny pas turun kota pgn bgt nyobain lg.
Pas pengen, pas pula ada yg ngasih traktiran, klop bgt kan...
udah d jemput d pelabuhan punggur, eh langsg pula d ajak mampir k Kepri Mall, dgn alasan perbaikan gizi gegara drop kmrn, emg baek betul sikawan... top bgt dah...
padahal kami dah lama bgt pisah tempat kerja, dari 2010, tapi walopun bny bgt perbedaan, persaudaraan kami ttp jalan sample skrg.

yoghurt nya maknyuss...

7. Pempek Panggang from Palembang
nah... klo yg satu ni emg beneran faktor ngidam, ntah kenapa pgn bgt dsaat gini makan menu yg satu ini, Alhamdulillahnya punya sepupu pengertian, dibela2in beli n dipaketin ke batam, meskipun klo difikir lebih mahal ongkir dibanding ama harga pempeknya. 25 biji hap..hap lgsg ludes sekali hadap, tapi ga dimakan sendirian koq... pi bareng ama sodara n ponakan drumah.
yang namany pempek, ga kn ad kenal istilah bosen... mo tiap hari juga gpp.

sekian dlu ya teman...
smg nanti bisa berbagi cerita lg ttg hal-hal lainnya...
jgn lupa tinggalkan jejak dsini, biar blogny bisa lebih baik lg, salam...

Selasa, 21 Maret 2017

Reuni Akbar SMA N 15 Palembang, temu kgn dgn Guruku...

Sabtu pagi, 9 Juli 2016 aku menyusuri jalanan kota kelahiranku, cukup lengang hari ni, Palembang bisa dibilang bebas dari kemacetan, momen yang cukup langka. Mungkin karena masih suasana lebaran, sebagian orang masih bermalas-malasan untuk keluar rumah, karena masih kangen kumpul bareng keluarga.
"Apapun warnamu sekarang, dulu kita hanya putih abu-abu" adalah tema yang diusung panitia Reuni Akbar SMU Negeri 15 Palembang class of 1993-2015 (ni dari angkatan pertama loh... bisa bayangin kan dah berapa lama mereka kagak jumpa, he he...).
Aq antusias banget untuk bisa hadir di acara ini, selaen berharap bisa temu kangen sama teman-teman 😊, jg penasaran pengen jumpa dengan guru-guru terkasih, apa kabar mereka?
Ternyata harapanku tidak sepenuhnya terwujud, tak banyak teman-teman satu angkatan yang bisa hadir, walaupun sebelumnya di group kami sibuk membahas masalah reuni. Ada beberapa kendala, mulai dari yang udah terlanjur beli ticket kembali ke tempat perantauan, ada yang masih kumpul keluarga, ada yang silaturahmi dengan teman-teman kuliah, dan berbagai alasan lainnya. Belakangan Aq baru mengetahui pasca acara digelar, ada alasan yg mungkin tidak terfikirkan oleh pihak penyelenggara, bahwa kemampuan financial alumni berbeda-beda, mungkin sebagian yg berkecukupan ataupun yg sukses perjalanan karirnya, bukan masalah penting jika harus merogoh sejumlah uang, tapi gimana dgn teman-teman yang keuangannya pas-pasan?
So, menurutku beberapa hal yang perlu diperhatikan kalo kita ditunjuk sebagai panitia reuni antara lain :

  • Tujuan reuni adalah untuk silaturahmi, jadi ga perlu mentargetkan diadakan d ballroom hotel ternama dengan anggaran biaya yg cukup tinggi, sehingga semacam ada pembatasan siapa yg bisa hadir siapa yang ga.
  • reuni pun bisa diadakan disekolah, mungkin kenangan-kenangan lama akan berlompatan keluar lg dalam ingatan, tentang apa saja yang kita lakukan semasa masih anak sekolahan
  • reuni juga bisa dijadikan ajang bakti sosial, ga semua org setelah lulus sekolah kehidupannya sukses seperti apa yg menjadi impiannya semasa sekolah, nah...lewat reunian Dana yg terkumpul bisa sebagian digunakan untuk mereka yg membutuhkan, bisa saja sebagao modal usaha buat mereka menjadi lebih baik lg kedepannya.
Bang Uma sendiri ada tips yang no dibagi seputar reuni?


With Genta, ketua OSIS angkatan kami 

Ticket Reuni Akbar

Narsis dulu buat kenang-kenangan

With Bunda Nurhayati, guru matematika

Foto bersama 

Rabu, 15 Maret 2017

Anambas dan serba serbi transportasinya...



Menjejakkan langkah ke Kepulauan Anambas, tentu jadi salah satu tujuan wisata yang ingin dikunjungi para pencinta Alam, termasuk teman-teman di Komunitas Blogger Kepri. Beberapa diantaranya sudah menorehkan catatan tentang pengalaman menjelajah wisata alam di Kepulauan Anambas dalam blog masing-masing, namun ada juga yang masih penasaran karena belum ada kesempatan berkunjung kesana (yang sabar eaa teman...)
Tarempa dari atas Bukit (foto by https://2.bp.blogspot.com)

Akupun tak pernah bermimpi bisa menjejakkan langkah, apalagi sampai hijrah ke Tarempa, Kepulauan Anambas (bekerja dan menemukan jodoh disana...^_^).

Kepulauan Anambas merupakan kabupaten yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera. Berbatasan langsung dengan Malaysia, Filipina, Vietnam dan Singapura. Tepatnya di Laut Cina Selatan. Dalam Versi CNN, Anambas gugusan kepulauan tropis terbaik di Asia. Pulau yang kaya dengan aneka ragam terumbu karang yang masih alami dan tidak ditemukan di laut manapun. Surga bahari...karena bertabur pesona ikan napoleon dan biota laut lainnya. Tak salah jika menjadi gugusan pulau eksotis dambaan para turis.

Banyak jalan menuju Roma... begitu juga transportasi Anambas. Teman-teman bisa memilih sesuai dengan ketersediaan waktu dan budget dana yang disediakan. Mau lewat Tanjungpinang atau langsung dari Batam, lewat laut atau udara, asal jangan nekat lewat darat aj ya fren...kapan mo nyampe soalnya, hehe....

Beberapa pilihan transportasinya antara lain :
1. Kapal Feri Via Tanjungpinang


Feri VOC Batavia akan menyandar di Pelabuhan Pemda di Letung
Feri Tanjungpinang - Tarempa biasanya beroperasi setiap hari Senin-Rabu-Jumat sedangkan dari Tarempa - Tanjungpinang dijadwalkan setiap hari Selasa-Kamis-Sabtu. Namun jadwal tersebut sewaktu-waktu bisa berubah, bisa karena kapal lagi dalam perbaikan, jumlah penumpang tidak sesuai dengan biaya operasi, ataupun tidak mendapatkan ijin dari Syahbandar untuk beroperasi dikarenakan laut tidak bersahabat untuk diarungi.
Pihak CV. Rempang mempunyai 3unit Kapal Feri yang biasanya dioperasikan untuk melayani rute Tanjungpinang - Tarempa - Tanjungpinang, Feri VOC Batavia, Feri Seven Star dan Feri Trans Nusa. Feri mana yang bertugas tergantung jumlah penumpang dan sikon cuaca di lautan.
Jika teman-teman memilih transportasi ini, kalian harus berada di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang sebelum jam 07.00 WIB, karena feri akan berlayar pas jam 07.00 (ontime loh...), jadi buat kalian yang berada di luar Tanjungpinang mau ga mau harus bermalam menikmati keindahan kota gurindam tersebut. Perjalanan Tanjungpinang - Tarempa akan ditempuh lebih kurang selama 9 jam dalam keadaan cuaca normal, jika dikondisi tertentu bisa juga 10 sampai 11 jam. Dalam perjalanannya, feri tersebut akan singgah sebentar di Pelabuhan Letung untuk turun naek penumpang tujuan Letung. Saat singgah di Letung, bagi teman-teman yang tidak membawa bekal makanan, bisa membeli disini, banyak pilihan yang disiapkan oleh pedagang, mulai dari nasi sotong masak itam, nasi sotong cabe merah, nasi ayam/ikan bakar. nasi ikan manyuk cabe ijo, juga cemilan seperti kerupuk atom, keripik pisang, kerupuk ikan mentah, jagung rebus, juga minuman yang sudah dibekukan, ga usah kawatir deh perut bakal kelaparan, hehe... Jika teman-teman memilih transportasi ini, dana yang harus disiapkan untuk tiket lebih kurang sebesar Rp. 450.000,-
Kapal VOC sedang menurunkan penumpang yang turun di Letung



Kalo udah ga dapet tempat lagi di dalam, apa boleh buat lah..

2. KM. Bukit Raya
KM Bukit Raya melayani tujuan Tanjungpinang - Tarempa 2 minggu sekali. Kapal ini berlayar dari Pelabuhan Kijang dengan menempuh perjalanan sekitar 17 Jam atau lebih. Biaya tiket yang dikeluarkan pun lumayan murah, lebih kurang sekitar Rp.170.000an (Kijang - Tarempa) dan Rp. 180.000an (Tarempa - Kijang) untuk penumpang kelas Ekonomi.
Jika di feri teman-teman hanya bisa duduk sepanjang perjalanan, tidak demikian dengan KM. Bukit Raya, disini disiapkan matras di tiap-tiap deknya. hanya saja karena di tiket tidak tertera nomor seatnya, jadi kalian sendirilah yang harus aktif mencari tempat ternyaman. Jika sedang arus libur sekolah atau lebaran atau saat transportasi lainnya tidak beroperasi, tidak menutup kemungkinan kalian harus rela tidur di emperan geladak kapal  mencari jika tidak sigap mencari tempat.
KM Bukit Raya menyediakan fasilitas seperti Musholla, Bioskop Mini, Kantin, Klinik Kesehatan dan fasilitas lainnya. Sepanjang perjalanan juga kalian bakal jumpa pedagang keliling yang menawarkan berbagai macam dagangan, mulai dari buah, makanan, minuman, kain pantai dan masih banyak lainnya.
Satu hal yang membuat perjalanan ini lebih berwarna menurut saya, karena tidak bisa berlabuh di dermaga di Letung, karena banyak karang dan airnya dangkal, Kapal labuh jangkar ditengah laut, jadi penumpang dari dan atau ke Letung turun ditengah laut, ada perasaan kagum bercampur takut
Arus penumpang turun naik ditengah laut
 melihat keberanian mereka "transaksi" ditengah laut. Penasaran buat ngeliat langsung guys???
Kapal Pompong yang membawa penumpang dari / ke Letung
Kapal Pompong yang membawa penumpang dari / ke Letung


3. KM. Sabuk Nusantara 39
KM Sabuk Nusantara, merupakan Transportasi termurah yang pernah saya jalani selama bolak balik ke Anambas. Benar kata pepatah, ada rupa ada harga... jika kalian memilih transportasi ini, kalian harus siap mengarungi lautan sekitar 27jam atau lebih, memang sih... biaya yang dibutuhkan untuk kelas ekonomi tidak sampai Rp. 50.000,- untuk kelas 2 sekitar Rp.100.000-150.000 (1 kamar utk 8 orang) dan kelas 1 sekitar Rp. 200.000 (1 kamar untuk 2 orang), angka pastinya saya lupa, karena terakhir memanfaatkan transportasi ini pada akhir tahun 2014. 
Klo KM Bukit Raya labuh jangkar di tengah laut, Kapal Feri di Dermaga Berhala Kelurahan Letung, KM Sabuk Nusantara singgahnya di Desa Kuala Maras, Kecamatan Jemaja Timur.  Lebih kurang sekitar 30-60 menit KM Sabuk Nusantara nyandar disini. Teman-teman bisa turun untuk sekadar mengisi perut ataupun sekadar menikmati pemandangan disini. Ada beberapa lapak / kedai yang menjual minuman panas / dingin, bakso ikan, soto, juga nasi.
Singgah sekejap di Pelabuhan Kuala Maras
Suasana di kamar kelas 2
Dermaga Kuala Maras
Eksis dulu with my sista
4. Kapal Feri Via Batam
Feri Batam - Tarempa yang dinamakan Blue Sea Jet 1 melayani rute Batam - Tarempa - Batam 3 kali seminggu. Setiap hari Selasa-Kamis-Sabtu tujuan Batam - Tarempa jam 09.00WIB dari Pelabuhan Punggur, sedangkan tujuan Tarempa - Batam setiap hari Rabu-Jumat-Minggu jam 07.30WIB dari Pelabuhan Tarempa. Waktu tempuh Blue Sea Jet1 sekitar 8 jam.
Blue Sea Jet 1 yang mempunyai kapasitas penumpang lebih banyak dibanding feri dari Tanjungpinang, juga dilengkapi dengan ruang khusus untuk orang sakit, toilet yang nyaman, juga ada beberapa pilihan kelas. Untuk kelas ekonomi sendiri dibandrol Rp.540.000,-

5. Pesawat 
Jika transportasi yang di atas bisa langsung tiba di Tarempa, berbeda halnya dengan pesawat. Hal itu dikarenakan pendaratannya masih menumpang di Bandara milik Perusahaan Conoco Philip. Pesawat jet poker yang hanya bermuatan sekitar 30 orang, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 10 menit. Jadwal penerbangannya hanya 2 kali seminggu, yaitu setiap hari Senin dan Sabtu dengan harga tiket Rp. 1.250.000,-
Jika ingin sampai ke Tarempa, dari Bandara teman-teman naik taksi (mobil pribadi yang dijadikan taksi) sekitar 15 menit dengan membayar Rp. 50.000/orang, kalian akan diantar ke dermaga Speedboat. Tiba di dermaga speedboat sudah siap mengantarkan teman-teman ke Tarempa. Waktu tempuh Matak-Tarempa sekitar 30 menit. untuk ongkos speednya sendiri tergantung jumlah penumpang, jika full terisi, akan dikenakan biaya Rp. 50.000/orang, tapi jika tidak, maka sewa speed akan ditanggung sesuai jumlah orang yang ada (misal sewa 1 speed 350.000 cuma terisi orang 4, maka sejumlah 350.000 itulah dibagi 4 orang tersebut).

Sayangnya untuk Gambar Blue Sea Jet1 dan Pesawatnya ga ada karena HP rusak dan terpaksa diprogram ulang dan saya harus merelakan kehilangan semua data yang ada.
Klo Chotijah Choty sendiri lebih nyaman dengan transportasi yang mana?
Salam dari Tarempa...ditunggu kunjungannya kesana...

Rabu, 08 Maret 2017

Rumah Miniatur Golden Prawn... Miniatur Nusantara di Kepri..



Beberapa waktu lalu tepatnya 5 Oktober 2016, pemilik akun www.journaleka.com membawaku mengunjungi tempat wisata yang ada di daerah Bengkong Batam Kepulauan Riau, sebagai upaya untuk menjamu sekaligus menghiburku saat aku "turun kota".
Bermodalkan petunjuk dan arahan dari teman-teman blogger seperti asad, eka handa, dan zack kami pun meluncur ke TKP ditemani si blue beat, soulmate setianya Eka DP.

Narsis dulu di Pintu Masuk ^-^
Bagiku yang sudah lama tidak menempuh perjalanan jauh dengan mengendarai motor/mobil, duduk lama membuatku merasa jengah, hehe...maklum saja... di pulau nun jauh disana, perjalanan yang kutempuh hanya rumah kontrakan - kantor yang hanya memakan waktu 10-15 menit saja. Bedanya hanya tekstur jalan yang terjal, tanjakan yang curam, ataupun liku belokan yang cukup menantang adrenalin, khususnya bagi ku yg sejauh ini tetap tidak mempunyai keberanian untuk mengendarai sendiri. (tuhkan... ngelantur deh jadinya malah nyeritain suasana pulau...wkwkwk...)

Kembali ke Laptop...
Batam Miniature House Indonesia terdiri dari 33 Rumah Adat dalam versi mini, menurut informasi dari beberapa sumber sih, seluruh rumah adat disini terbuat dari semen dengan tinggi sekitar 1,5m, dengan luas keseluruhan taman sekitar 40m x 60m. Taman 
Batam Miniature House Indonesia ini termasuk dalam kawasan wisata Golden Prawn.

Tuh kan...asal mau menjelajah...banyak koq tempat-tempat wisata yang bisa kita kunjungi...
pasang senyum manis di Miniatur Rumah Adat Bali

Khusus yang pic yang disamping, ada sedikit rasa ga puas liat hasil karya Ruma Miniatur Provinsi Sumatera Selatan, harap maklum... karena asal muasal saya dari sana, jadi saya tau persis klo rumah adat tersebut adalah Rumah Limas, yaitu rumah yang berbentuk panggung, jikalau ada rumah adat kedua (Rumah Rakit) yang diproklamirkan sebagai rumah adat asli Sumsel, bentuknya pun tetep ga sama dengan yang ada disebelah,,, tapi apapun bentuknya, yang pasti si pengelola n yang ngebangun rumah disamping sudah berusaha keras buat menghasilkan karya disebelah...ane aj kagak bisa buatnya, hehe...

Jangan pernah lelah menjejakkan langkah menyusuri tempat-tempat baru yang belum pernah kamu singgahi... banyak pembelajaran bisa didapat, baik yang tersurat maupun yang tersirat, iy kan mba Sri Murni?






Selasa, 15 November 2016

A moment with Iqbal Rois Kaimudin



Untuk pertama kalinya aq mengenalnya,
salam sapaan pertama dari admin blogger kepri
Aq mengenal sosok Iqbal dari teman baikku, Eka Dewi Puspita, pemilik www.journaleka.com. Waktu itu aq tertarik untuk bergabung dengan Komunitas Blogger Kepri.
Alhamdulillah... ketertarikanku tak bertepuk sebelah tangan, Iqbal -admin blogger kepri- menyapaku lewat facebook messanger.
21 Mei 2016 aq bergabung dalam komunitas Blogger Kepri sekaligus mengenal sosok admin yang multitalenta.

Aq akui, aq tak begitu mengenal Iqbal seperti teman-temanku yang laen. Namun bagiku, Iqbal adalah Inspirator sekaligus Motivator. Lewat tulisan-tulisannya yang diramu dengan gayanya yang khas, www.jalankemanagitu.com menjadi "buku panduan online" bagi teman-teman yang membutuhkan informasi seputar lokasi wisata.
Bukan hanya itu, ketegaran, kesabaran dan sikap optimis untuk sembuh menjadi cambuk bagiku. Iqbal beruntung... dikaruniai istri yg luar biasa, Fira sosok istri yg shalehah, begitu tegar melewati ujian dan masa sulit, "hadapi dengan senyuman" begitulah kesan yg aq rasakan saat berjumpa dengannya.

Tuhan selalu punya cara, andai waktu itu kepulanganku ke Tarempa Kepulauan Anambas tidak mengalami kendala, mungkin aq tak kan pernah berjumpa dengan Iqbal. Waktu itu feri yang ku tumpangi tujuan Batam - Tarempa mengalami kerusakan mesin, sehingga kapal yang sempat berlayar sekitar satu jam, putar haluan kembali ke Pelabuhan Telaga Punggur Batam.

Hari itu Rabu, tanggal 6 Oktober 2016, bada isya, merupakan kali pertama dan terakhir aq berjumpa dengannya.
Selamat Jalan Iqbal...



Foto diambil dari Foto Profil Iqbal di Facebook




#TributeToJalanKemanaGitu
#TibuteToIqbalRoisKaimudin

Rabu, 19 Oktober 2016

POMP Filiriasis...Posyandu Flamboyan sukseskan BElKaGa

Kader Posyandu Flamboyan Sukses
melaksanakan POMP Filiriasis

Masa rehatku di Batam kali ini lebih banyak dihabiskan dengan berdiam diri di rumah, tak ada keinginan untuk road show mall to mall seperti kepulanganku sebelumnya. Namun bukan berarti aq terus menerus mengisi waktu rehatku dengan berbaring seharian di depan televisi.
Memang kepulanganku kali ini tidak seperti biasa, karena tugas, ataupun cuti tahunan. Kali ini aq harus menjalani pengobatan pasca keguguran akibat pendarahan yang mungkin penanganannya tidak maksimal dikarenakan keterbatasan pengetahuan / ataupun obat-obatan.
Selama di Batam, aq menginap dirumah saudaraku, aq terus mengamati kegiatan kedua kakakku, mulai dari kesibukan sebagai ibu rumah tangga, salah satu kakakku juga masih tercatat sebagai karyawan di Perusahaan yang berlokasi di Mukakuning, Selain aktivitas wajib, mereka juga tercatat aktif sebagai kader Posyandu, Bank Sampah, PKK dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Oktober ini misalnya, mereka disibukkan dengan program Posyandu POMP Filiriasis (Pemberian Obat Masal Pencegahan Penyakit Filariasis). Kegiatan ini dalam rangka mensukseskan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BElKaGa), salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah untuk mengatasi sekaligus pencegahan penularan Penyakit Kaki Gajah. Untuk Posyandu Flamboyan sendiri mendapat jadwal di tanggal 14 Oktober 2016 kemarin.
Orang berusia 2-70 tahun yang tidak hamil atau sakit berat, wajib minun obat oencegah Penyakit Kaki Gajah.Jadi, jangan berfikiran kalo Penyakit Kaki Gajah tu disebabkan oleh penyakit keturunan, terkena guna-guna ataupun karena kutukan. Karena sebenarnya penyebab Penyakit Kaki Gajah ini sendiri disebabkan oleh Nyamuk, bisa nyamuk rumah, nyamuk got, nyamuk hutan dan juga nyamuk rawa-rawa yang sudah terinfeksi cacing filaria. untuk detailnya kamu bisa baca lengkap dibagian akhir tulisan ini.
Antusias masyarakat pada saat antri menunggu giliran


Periksa tekanan darah dulu bersama dokter cantik ^_^
Aktivitas disaat POMP Filiriasis


Pak Ruslan, Lelaki yang mendedikasikan
 dirinya keliling menjadi Narasumber
Penyakit Kaki Gajah
Narasumber Penyakit Kaki Gajah

Lelaki ini bernama Pak Ruslan, atau yang lebih akrab disapa Wak Lan, Sewaktu lajang Wak Lan bekerja "mbalak kayu di hutan" sekitar tahun 1975an. Karena faktor kelelahan, biasanya selepas bekerja mereka beristirahat di sembarang tempat. Mungkin dari sanalah awal beliau digigit nyamuk, kenang Wak Lan membuka cerita.
"Gejala awal panas tinggi, demam. Minum obat sembuh, tapi klo capek, panas tinggi lagi, begitu terus menerus", lanjutnya lagi.
Akhirnya pada tahun 2004, baru dilakukan cek darah dan hasilnya Wak Lan dinyatakan positif mengidap Filariasis. Awal perjuangan untuk sembuh dimulai, untuk mengurangi rasa sakit, setiap harinya Wak Lan harus minum obat tersebut 3 x 3 pil perhari selama 10 hari berturut-turut.
Setelah 5 tahun kemudian, kaki Wak Lan perlahan tapi pasti mulai mengalami pembengkakan, dan terus berlangsung sampai saat ini. "Setiap merasa sakit terasa ada yang benda yang bergerak, mungkin kalo hanya sekadar gatal diluar masih bisa kita menggaruknya, tapi kalo rasa gatal itu justru dibagian dalam, hanya bisa berpasrah kepada Sang Pencipta" ungkap Wak Lan. Begitu rasa sakit yang dirasakan hilang, kakinya bertambah besar.
Wak Lan mendedikasikan dirinya dan bersedia menjadi Narasumber terkait Penyakit Kaki Gajah, dengan harapan masyarakat menjadi "melek" dan sadar kalo Penyakit Kaki Gajah itu merupakan penyakit yang membuat cacat seumur hidup dan tidak bisa disembuhkan. Dengan menjadi narasumber, beliau berharap tidak ada lagi korban yang akan bertambah, dan target Pemerintah untuk memutus rantai penularan Filariasis dapat tercapai.

 Kenali Penyakit Kaki Gajah sejak dini

Penyakit Kaki Gajah atau disebut juga Filariasis adalah penyakit infeksi yang bersifat menahun, yang disebabkan oleh Cacing Filaria dan ditularkan oleh nyamuk.

Penyakit ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut :
  1. Penyakit Kaki Gajah disebabkan oleh Cacing Filaria yang hidup di dalam tubuh manusia.
  2. Cacing Filaria dapat bertahan hidup selama 4-6 tahun dalam saluran getah bening (bagian tubuh yang melindungi kita dari penyakit).
  3. Cacing Filaria berkembang biak di dalam tubuh dan menghasilkan jutaan anak cacing (mikrofilaria) yang beredar dalam darah.
Cara Penularan Penyakit Kaki Gajah
  1. Penyakit Kaki Gajah ditularkan dari seseorang yang darahnya mengandung mikrofilaria kepada orang lain melalui gigitan nyamuk.
  2. Pada waktu nyamuk menghisap darah orang tersebut, mikrofilaria ikut terhisap dan masuk ke dalam badan nyamuk.
  3. Satu hingga dua minggu kemudian, mikrofilaria berubah menjadi larva dan ditularkan pada orang lain waktu nyamuk mengigitnya.
Gejala dan Tanda Penyakit Kaki Gajah
Tahap Awal
  1. Demam berulang-ualng selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila si penderita istirahat dan muncul lagi setelah si penderita bekerja berat.
  2. Pembengkakan saluran getah bening sehingga terlihat bengkakdi daerah lipatan paha, ketiak yang tampak kemerahan, panas, dan sakit.
  3. Timbul abses (bisul) yang bisa pecah mengeluarkan nanah dan darah.
  4. Pembesaran kaki, lengan, payudara, atau buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas
Tahap Lanjut (Kronis)
Pembesaran menetap pada kaki, lengan, payudara, kantong buah zakar dan alat kelamin wanita.

Cara Mencegah Penyakit Kaki Gajah
  • Minum Obat Pencegahan Penyakit Kaki Gajah sekali setahun, selama minimal lima tahun
  • Menghindari gigitan nyamuk dengan cara :
    • Menggunakan kelambu saat tidur
    • Menggunakan obat nyamuk semprot/bakar
    • Memakai obat oles anti nyamuk
    • Menutup ventilasi rumah dengan kawat kassa.
  • Memberantas nyamuk dengan cara :
    • Menjaga kebersihan lingkungan.
    • Menghilangkan/membersihkan tempat perindukan nyamuk
    • Menimbun, mengeringkan atau mengalirkan air yang tergenang.
Manfaat Ganda Minum Obat Pencegah Penyakit Kaki Gajah
  • Pemberian albendazole pada POPM Penyakit Kaki Gajah mempunyai manfaat ganda, yaitu dapat mematikan atau memandulkan Cacing Filaria dewasa serta dapat mematikan cacing perut seperti cacing gelang, cacing tambang, cacing cambuk dan cacing kremi.
  • Dengan demikian, orang yang minum obat pencegah Penyakit Kaki Gajah memperoleh dua manfaat sekaligus : melindungi dirinya dari risiko terkena Penyakit Kaki Gajah dan kecacingan.

Kader Posyandu Flamboyan berfoto bersama dengan Narasumber 
Semoga apa yang menjadi harapan Wak Lan bisa kita wujudkan, Dengan meminum obat pencegah Penyakit Kaki Gajah di Pos Pemberian Obat adalah cara mudah melindungi diri Kita dan keluarga tercinta dari Penyakit Kaki Gajah. 



Profil Posyandu Flamboyan
Ketua        : Bu Antie
Sekretaris  : Bu Imel
Bendahara : Bu Neneng
Anggota    : 1. Bu Teti Efrida
                    2. Bu Rini Susanti
                    3. Bu Ira
                    4. Bu Ngatemi
                    5. Bu Evi
Alamat : Perum Taman Lestari Blok A Kelurahan Kibing Kecamatan Batuaji Batam
Pelayanan Posyandu meliputi wilayah Taman Lestari Blok A, Perum Bumi Agung Permai, Ruli BAP

Senin, 10 Oktober 2016

September sukaku...September dukaku...

Sedikit bercerita,

September... salah satu bulan favoritku, ada beberapa momen penting dalam perjalanan hidupku,
  1. Bidadariku tercinta, lahir di bulan september, tepatnya tanggal 28 september 1945, ini ada kaitannya kenapa aq suka bgt dgn angka 28, coz of U, Mom...
  2. September 2007, tapi aq lupa tanggal pastinya, detik-detik krusial perjuangan 3 tahunku di kampus Ungu, sidang tugas akhir, finally aq mampu menuntaskan perjuangan kerja vs kuliah dgn meraih tiket utk memakai toga d bulan oktober 2007, Alhamdulillah... 
  3. 7 September 2013, saat aq kembali mengenakan toga, buah dari perjuanganku sebagai mahasiswa konversi disalah satu kampus di Batam, Alhamdulillah... kali ini aq berhasil membawa mama n papa hadir di momen bahagiaku.
September 2016

September 2016, juga ikut menorehkan catatan indah dalam hidupku, 7 September 2016 aq dinyatakan positif hamil, sebuah penantian yg cukup panjang.

Namun kehidupan tak selalu identik dgn bahagia, ada masanya duka pun hadir... suka atau tidak kita juga harus siap menjalaninya.

7 September 2016
Pukul 05.00 wib
aq mencoba menjawab rasa penasaranku, ini kali ketiga "tamu" yg biasanya selalu hadir ditanggal yang sama tiap bulannya, belum tampak keberadaannya.
Namun aq tak pernah berani bermimpi, aq sadar diri, aq divonis mengidap polip endometrium, bisa saja ini hanya keterlambatan biasa.
Polip itu bersarang dirahimku sejak Oktober 2015, dan baru dinyatakan bersih 11 Juli 2016 kemaren, perjuangan selama 10 bulan yg cukup melelahkan.
Mulai dari kontrol di dokter umum di Tarempa, Kepulauan Anambas, hingga akhirnya aq dirujuk ke Batam, untuk mengkonsultasikan ke dokter Obgyn. Untuk mendapatkan referensi Aq mencoba berkonsultasi dengan 3 dokter obgyn yg cukup ternama + 1 shinshe, bukan tidak percaya hasil diagnosa mereka, namun aq butuh pengetahuan, untuk menjawab ketakutanku, untuk membantu mengurangi kekhawatiranku. Ternyata hasil diagnosa mereka sama, polip endometrium (sejenis tumor jinak) di rahim!

Ternyata aq tidak bermimpi... hasil tes yg kupegang 2 garis, Alhamdulillah... puja dan puji aq panjatkan kepada Ilahi Robbi.
Aq bahagia... sangat bahagia....
Aq dan suami sepakat untuk mengecek lebih lanjut ke dokter sore sepulang kerja.


Pukul 10.00
Manusia boleh berencana, namun Tuhan yang menentukan, pagi ini aq diliputi rasa takut, bagaimana tidak... ada bercak darah. Ditengah kegalauanku, aq berbagi cerita pada salah seorang rekan kerjaku, tanpa fikir panjang, dia menyarankan sesegera mungkin aq memeriksakan diri ke dokter, khawatir ada masalah dengan kehamilanku.

Pukul 11.30


Dokter setempat membenarkan hasil tespek yang aku pegang lewat hasil USG, namun aq mendapat warning keras berkaitan dengan Flek tersebut, karena seharusnya dia tidak boleh ada, karena itu pertanda ada masalah dengan kandunganku.
Suka atau tidak aq harus BEDREST total, demi kebaikanku sendiri!!
Berbekal beberapa jenis obat yang harus aq konsumsi, aktifitasku hanya berbaring...
ad rasa bosan, namun semuanya utk kebaikanku jg.

Pukul 14.00
Aq makin panik, obat penguat udah diminum, udah ga ad aktivitas lg yg dilakuin selain tidur, tapi pendarahannya malah makin banyak.

8 September
Pukul 05.00
Pendarahannya masih banyak, malah pagi ini aq temukan gumpalan dengan diameter 2cm, kenyal... walopun sudah aq bolak balik ditelapak tangan. Perasaanku ga enak, namun aq tak bisa berbuat banyak, ntah kenapa reflek aq memutuskan utk menguburkan gumpalan itu.

Pukul 08.00
Belum ad perubahan yg signifikan, akhirnya aq memutuskan utk berkomunikasi dgn dokter di Batam, berbekal foto usg dan hasil diagnosa sebelumnya yg kukirim via email dan WA.
Alhamdulillah aq mendapat respon yg sgt cepat, menurut diagnosa dokter di batam, aq mengalami ancaman keguguran. Untuk itu beliau menyarankan utk mencari obat yg diresepkan, dan sesegera mgkin digunakan.

Pukul 09.00
Puas berkeliling hampir d semua apotek yg ada di tempatku, akhirnya suamiku mendapatkan obat yg dimaksud, ternyata sangat jarang penggunaan obat tersebut disini, bahkan petugas disalah satu apotek berujar "dokter baru ya yg kasih resep obat ini? soalnya selama ini ga ad yg pernah resepin obat ini" jelas petugas tersebut.
"bukan dokter baru, tapi dokter senior" jawab suamiku.

Pukul 14.00
Lima jam setelah obat tersebut dikonsumsi, perlahan perdarahanku mulai berkurang, tidak seperti sebelumnya. Setidaknya aq bisa sedikit merasa lebih lega, setidakny obat tersebut mulai bereaksi.

14 September 2016
Perdarahanku bisa dikatakan sudah berhenti, stok obat pun sudah habis, lewat WA, dokter menyarankan agar jadwal konsultasi dipercepat.
Hasilnya diluar dugaan, kantong hamilku sudah ga utuh lg, abortus incomplete, begitulah penjelasan yg kudapatkan. Dokter menyarankan aq lgsg berangkat ke batam trip feri terdekat, untuk mendapat tindakan lanjutan.
Sedih yg luar biasa aq rasakan, hanya sekejap aq diliputi rasa bahagia. Meski aq berusaha menahan sesak di dada, tak bisa kupungkiri, sungai kecil mengalir deras di wajahku. Aq kuat...Aq ikhlas... tapi air mata tak bisa aq redam.



10 Oktober 2016
Hari ini aq mulai berdamai dengan keadaan, aq kembali beraktivitas setelah rehat panjang. 3 minggu aq menghabiskan masa pengobatan dan pemulihanku di Batam. 
Syukron Yaa Robb, aq diberikan kesempatan merasakan bahagia karena kehamilanku, meski hanya sesaat. Aq sadar, skenario-Mu jauh lebih indah dari pada segudang mimpiku. InsyaAllah aq ikhlas menunggu hingga saat yang tepat, anugerah itu kan kembali hadir di rahimqu.

Kamis, 29 September 2016

Mepe Kasur, Tradisi Unik di Desa Wisata Osing Kemiren Banyuwangi


Desa Adat Osing Kemiren Banyuwangi,
Foto diambil dari trevelsia.com

Aktivitas harian yang cukup padat, baik rutinitas harian di rumah, ditambah lagi dengan kerjaan kantor yang menumpuk, seringkali membuat kita stress. Ada masanya kita perlu meluangkan waktu untuk berlibur, selain berehat sejenak dari seabrek kesibukan, liburan juga baik untuk ajang penyegaran, setidaknya melepas penat barang sekejap. Sebagai orang yang terlahir dan dibesarkan di Pulau Sumatera, ga ada salahnya kan saat saya liburan destinasi wisata yang dituju di belahan Indonesia lainnya, seperti Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi ataupun Papua. Karena Indonesia kaya akan tempat wisata lengkap dengan kulinernya.
Kota Banyuwangi bisa jadi salah satu destinasi yang dituju. Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur, dengan luas 5.782 km2. Karena letaknya di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi menjadi kota transit bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang. Dengan posisinya yang strategis banget, banyak tempat oke alias kece yang bisa kamu pantengin disana antara lain : Kawah Ijen, Pantai Plengkung (G-Land), Pantai Rajegwesi, Pantai Watu Dodol, Teluk Hijau (Green Bay), Pantai Pulau Merah, Air Terjun Kalibendo, Air Terjun Lider, Agrowisata Kali Klatak, Pemandian Taman Suruh.
Karena pengen  destinasi yang berbeda makanya saya pilih Cagar Budaya Desa Adat Osing Kemiren. Desa Kemiren dikenal karena memiliki berbagai keunikan mulai dari adat, tradisi, kesenian, kuliner serta pola hidup masyarakatnya yang masih menjaga tradisi sejak dulu. Ada tradisi unik saat liburan kesana pas bulan Dzulhijjah (Penanggalan Hijriyah), apalagi pas sepekan menjelang Hari Raya Idul Adha, ada satu moment dimana seluruh masyarakatkemiren mengeluarkan kasur untuk dijemur disepanjang jalan Desa Kemiren. Kasur - sebutan tempat tidur dalam bahasa Jawa - dengan corak dan warna yang sama yaitu hitam dibagian atas dan bawah dan merah dibagian tepinya. Kasur ini memiliki filosofi, warna merah melambangkan penolak balak sedangkan warna hitam melambangkan kelanggengan dalam rumah tangga. Menurut tetua adat setempat, tradisi mepe kasur ini dilakukan karena sumber segala penyakit berawal dari tempat tidur, sehingga tradisi tersebut dipercayai untuk mengusir segala macam penyakit. Mepe kasur termasuk dalam rangkaian tradisi tumpeng sewu ritual bersih desa.

Tradisi Mepe Kasur Desa Adat Osing Kemiren
Foto diambil dari banyuwangi.merdeka.com

Liburan ga usah bingung mikirin mo nginep dimana, karena disana ga punya teman , kerabat apalagi keluarga. Itu bukan masalah besar, karena jaman juga udah semakin canggih, iya kan..?? Lewat HP saya udah bisa reservasi online, Nyulik istilah jargon sih Life in your Hand klo anak muda jaman sekarang bilang. Lewat www.traveloka.com saya ga cuma bisa booking tiket pesawat, tapi juga pesen kamar hotel.Simple banget koq! cukup klik Login di Traveloka saya tinggal memilih Hotel yang sesuai budget kantong saya, juga dekat dengan lokasi tujuan wisata saya. Ga perlu ragu, karena selain bisa dapetin harga yang sesuai, kita juga disajikan informasi mulai dari kondisi kamar, fasilitas yang disediakan, tempat menarik terdekat dengan hotel, rating juga review dari tamu sebelumnya.Itu semua sangat membantu saya memilih tempat tinggal yang nyaman buat liburan.
Banyuwangi... wisata dalam negeri, rasa luar negeri.

Enjoy with Traveloka

Minggu, 25 September 2016

Papa, Mama Anugerah Terindah

Apa yang terjadi hari ini, merupakan hasil dari usaha kemarin, apa yang terjadi besok, buah kerja kerja keras hari ini. Begitulah pesan yang ditanamkan Papa dan  Mama padaku. Batam,  bukan kota impianku, pada kenyataannya di sanalah tempat yang bisa mewujudkan impianku.
Puing2 yg tersisa waktu kebakaran
Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Tapi aku  sangat bahagia mempunyai orang tua dan saudara-saudara yang selalu menyayangiku. Aku merupakan anak bungsu dari enam saudara. Semuanya terasa indah, hingga  kondisi itu berubah saat kebakaran membumi hanguskan rumah tempat kami berteduh.
Maret 1987, awal dari semuanya.  Tak ada yang tersisa malam  itu, dua rumah dan sepuluh  pintu rumah  kontrakan yang  kami miliki  habis terbakar. Hanya motor dinas Papa, satu tas berisi ijazah dan surat-surat penting lain,  TV berukuran 14 inch merk  National yang dapat diselamatkan. Aku tak mengerti apa-apa waktu itu, aku baru menginjak usia tiga tahun. Aku hanya ingat  berlari di tengah malam buta, bersama nenek dan kakak tertuaku menuju rumah paman. Tak heran  jika sampai saat ini aku trauma, mendengar sirine mobil pemadam kebakaran.
Kami  harus memulai kehidupan di rumah kontrakan. Semuanya terasa aneh.  Berdesak-desakan tidur  dipetak kecil yang ada di kolong rumah orang. Namun Papa dan  Mama selalu menguatkan kami. “Tak ada yang abadi, semua yang kita punya kemarin hanyalah sebuah  titipan Allah SWT, roda kehidupan pasti berputar, dan kita harus menjalaninya dengan ikhlas” demikian  Papa menenangkan kami. Aku lagi-lagi tak paham, kenapa Papa dan  Mama bisa “menikmati” tinggal di rumah sempit,  yang hanya mempunyai dua kamar untuk sembilan orang. Menganggap semuanya biasa. Saat musim  penghujan datang, air pasang meluap membuat rumah kami seakan berada di tengah danau.
Hampir Enam tahun kami tinggal dibawah kolong. Begitulah aku menyebutnya. Kami harus pindah saat ada program pemerintah melakukan pelebaran anak sungai dan membuat dam di sisinya. Rumah sewaan kami termasuk yang akan dieksekusi. Kembali Papa dan  Mama sibuk mencari rumah kontrakan.
Ada perasaan gembira saat aku tau kami akan pindah, tapi sedikit miris saat tahu rumah yang akan kami tempati sudah  lima tahun  kosong, tidak ada orang yang betah  berlama-lama tinggal di rumah itu. Sebenarnya rumah itu luas, bahkan lebih dari yang kami butuhkan. Rumah itu terdiri dari  empat kamar tidur, dua kamar mandi, ruang tengah yang luas, ada ruang makan  dan dapur yang lumayan besar. Halaman luas baik halaman depan maupun halaman belakang. Tapi  kami lagi-lagi harus bersahabat dengan banjir. Posisi rumah lebih rendah  dari jalan. Tak heran,  jika hujan satu jam saja bisa menghadiahkan banjir menggenangi seisi rumah. Lagi-lagi aku merasa menempati rumah di tengah danau. 
Kehidupan kami terseok-seok untuk kembali bangkit. Tapi  masalah pendidikan, Papa dan Mama sangat fokus memberikan yang terbaik bagiku dan lima saudaraku. Kehidupan boleh saja susah, namun bukan berarti kami tidak bisa berprestasi. Begitu  yang selalu ditanamkan  Papa dan Mama.  Selain kegiatan belajar di sekolah, sore hari  kami di daftarkan di Majlis Ta’lim. Harus seimbang untuk kehidupan dunia akhirat, itu yang Papa Mama tekankan. 
saat ak ewin tampil di Langgar (Surau)
Alhamdulillah, banyak hal yang bisa kami dapat. Bukan hanya ilmu, kami juga memperoleh pengalaman. Di Majlis Ta’lim, kami diajak ikut serta menyampaikan dakwah  lewat tausiyah, lewat drama yang mengangkat  tema kehidupan. Aku dan kakak kelima, lebih fokus dilatih sebagai da’i cilik. Sementara  kakak  ketiga dan keempat difokuskan  pada drama. Sedangkan kakak pertama dan ke dua dilatih mengenal organisasi dan cara bersosialisasi di lingkungan sekitar.  Kami bisa keliling daerah menyampaikan syiar islam,  pengalaman yang tak bisa dilukiskan lewat kata. Saat itu aku baru mengerti,  kenapa Papa dan  Mama selalu mengacuhkan rengekanku saat aku malas mengaji, aku tetap dipaksa fokus melakukan kedua aktivitas itu. Diasah belajar membagi waktu, agar tak  mengeluh lelah melakukan semua aktivitas.
with mama, mek (nenek)dan ak ewin,
Wisuda TPA, toga yg membuatku terus
bermimpi utk memakainya lg
Terbiasa dengan aktivitas yang padat dalam keseharianku.  Saat kelas dua SD, kuminta pada Papa dan Mama untuk belajar di Taman Pendidikan Alquran, ingin mencoba sesuatu yang baru, begitulah alasan yang kuutarakan. Alhamdulillah, Papa dan Mama mengabulkan. Mulai saat itu aku berjanji memberikan yang terbaik bagi Papa dan Mama, begitupun saudaraku  yang   lain, semuanya berpacu dengan waktu. Aku tahu, hanya lewat prestasilah aku bisa membahagiakan  Papa dan Mama.  Semua jerih payahku terbayar lunas, saat aku bisa memakai toga Wisuda I TK/TPA. Bukan hanya itu, aku dan beberapa teman-teman berhasil maju mewakili provinsi untuk ajang FASI (Festival Anak Shaleh) di Jakarta. 
Akhirnya aku tahu alasan Papa menyeimbangkan bekal pendidikan dunia dan akhirat. Papa tidak pandai mengaji, dan Papa ingin kami bisa lebih baik darinya. Bukan masalah bagi Papa, untuk belajar mengaji dari kami. Papa selalu bilang tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Belajar mengaji, Papa memilih metode hafalan. Dia meminta kami membacakan untuknya, lalu diikuti setelahnya. Jika Papa telah hafal, tak segan Papa meminta kami mengoreksi bacaannya. Semangat belajar Papa menjadi cambuk untukku terus berprestasi. Meskipun aku bukanlah tipe kutu buku seperti teman-teman.
***
Terlahir sebagai anak tertua dari keluarga  sederhana di pesisir Bengkulu Selatan, tidak  membuat Papa menyesali takdirnya. Semuanya Papa jalani dengan tulus. Setelah  lulus Sekolah Rakyat (setara SD saat ini), Papa memutuskan  merantau  ke Palembang. Kerasnya kehidupan yang Papa alami membuat Papa tegar menatap masa depan. Papa yakin, Allah SWT  tidak akan  memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Kesabaran  Papa akhirnya berbuah hasil, Papa menemukan cintanya di Palembang. 12 Januari 1968 Papa resmi meminang Mama. Walaupun sebelumnya Papa mesti sabar melewati cobaan demi cobaan yang mendera. Selalu ada hikmah di balik masalah, begitulah aku menyimpulkan. 
Papa dan Mama, Anugerah Terindah yg
Tuhan hadiahkan untukku


Bukan hanya dalam hal belajar, Papa keras terhadap kami. Dalam hal tanggung jawab, pun Papa menerapkan hal yang sama. Pernah aku bertanya saat Papa menyuruh kakakku datang langsung ke kantornya, mengurus tanda pencari kerja mengikuti prosedur yang ada. Kenapa Papa tidak mau membantu kakak, padahal jika orang lain yang meminta pasti  Papa membantunya.  Papa hanya memberikan alasan, Papa tidak ingin mempunyai anak yang manja, selalu memanfaatkan  kedudukan orangtua. Tanpa mau mengikuti prosedur yang ada.  Papa  selalu mengajarkan kami peka terhadap lingkungan sekitar, di manapun kami berada. Mungkin saat itu sebuah misteri bagiku, namun beberapa tahun kemudian, baru aku mengerti, kenapa Papa seperti itu pada kami anak-anaknya.
Masa-masa indah  tinggal di rumah,  di tengah danau berakhir, Saat si pemilik  rumah memutuskan menaikkan  harga sewa dua kali lipat dari sebelumnya . Kami hanya diberi waktu tiga bulan mengambil keputusan. Tetap lanjut atau tidak. Aku pun tak habis pikir, kenapa pemilik  rumah tega berbuat seperti itu. Padahal sudah banyak perbaikan yang Papa lakukan,  agar rumah tersebut layak huni. Setidaknya, kalaupun dia minta kenaikan, bukan berarti harus langsung setinggi  itu. Namun, mungkin inilah jalan bagi kami untuk mengakhiri masa-masa menghuni rumah orang. Papa memutuskan merenovasi rumah tipe dua satu yang beberapa tahun terakhir dicicil.
            Berat rasanya meninggalkan  rumah di tengah danau yang penuh kenangan. Kenangan bahagia, selama menempati rumah itu, secara bergantian empat kakakku telah melangsungkan pernikahan, rumah itu jadi saksi. Kenangan duka, saat aku kehilangan  nenek tercinta. Namun tak terlukiskan juga kebahagiaan  saat mengingat kami mendapat hadiah terindah dari Papa, rumah mungil pengganti setelah belasan tahun kami nanti. Tanpa terasa waktu kami di rumah kontrakan hanya tinggal menghitung hari. Tepat seminggu setelah  hari raya Idul Fitri tahun 1421Hijriyah tahun 2000 miladiyah, kami pindah ke rumah mungil kami. Ada rahasia dibalik rahasia, begitulah takdir hidup yang kami jalani, semuanya adalah misteri yang terkadang tak pernah kita bayangkan. Rumah kami kembali, setelah empat belas tahun kami nanti.
   Aku selalu berusaha menepati janjiku untuk terus memberikan hasil terbaik bagi Papa dan Mama. Namun aku dihadapkan pada satu ujian berat saat itu. Tepat seminggu menjelang ujian akhir SMA, Papa mengajak bicara dari hati ke hati. Saat itu Papa bertanya tentang rencanaku setelah lulus SMA. Tanpa beban,  aku menjelaskan ingin melanjutkan kuliah ke PTN favoritku. Ternyata semuanya tak seindah yang aku bayangkan, saat itu Papa memberitahu tentang ke tidak mampuannya jika harus menanggung biaya kuliah tiga anak sekaligus. Maklum saja, Papa dan Mama hanya mengandalkan gaji pensiun yang tidak seberapa. Saat itu kakak keempatku berada di semester delapan, sedangkan kakak kelima semester empat. Papa meminta pengertianku untuk bersabar. Jika kakak keempat sudah lulus, aku pun akan mendapat kesempatan yang sama. Karena tidak ingin melihat Papa bersedih, aku mengalah.
     Bukan hal yang mudah bagiku melewati hari demi hari setelah itu. Konsentrasi belajarku buyar, pikiranku dipenuhi gejolak emosi seakan Papa pilih kasih. Detik demi detik terakhir perjuangan belajarku dibangku SMA, kujalani dengan setengah hati. Ingin rasanya aku berontak, namun aku tak sanggup. Aku pun tak  bisa membohongi hati kecilku jika aku kecewa terhadap keputusan Papa. Lama aku bergulat dengan pikiran sendiri. Aku menjadi anak yang pemurung, lebih banyak mengurung diri, tak perduli lagi dengan hasil yang aku raih. Melihat kondisiku yang kian hari kian terpuruk, ketiga kakak tertuaku berusaha menenangkan. Mereka menyadarkanku bahwa semua yang aku lakukan beberapa pekan terakhir keliru. Memang, di keluargaku, hanya kakak keempat dan kelima yang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Sedangkan ketiga kakakku yang lain memilih bekerja untuk membantu orang tua. Bukan karena mereka tidak mau, namun karena mereka sadar akan kondisi ke dua orang tuaku, tidak sepertiku saat itu.
 Untuk menghibur, kakak ke duaku memberikan kesempatan bagiku mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru pada  PTN di kotaku. Namun semuanya terlambat, konsentrasiku sudah tak seperti dulu, ketakutan demi ketakutan terus menghantui. Percuma saja aku lulus jika tidak ada yang sanggup membiayaiku, bisik batinku kala itu. Aku pun akhirnya memutuskan hengkang dari kotaku. Tak sanggup rasanya aku bertemu dengan teman-teman, mendengar cerita mereka tentang dunia baru di perguruan tinggi. Aku menghilang tanpa jejak, Batam adalah pilihanku berlabuh.
     September 2002 aku berangkat ke kota yang asing bagiku, tidak begitu mungkin, sebab aku akan tinggal dengan kedua kakakku. Namun tetap saja semua terasa berbeda saat aku harus berpisah dengan Papa dan Mama. Hanya Mama dan kakak ke lima yang mengantar kepergianku ke pelabuhan. Papa tidak ikut karena alasan tidak enak badan.  Belakangan aku baru tahu, ternyata Papa bukan  tidak enak badan, semuanya dilatari karena Papa tak sanggup melepas kepergianku. Papa merasa gagal karena tidak bisa memenuhi permintaanku.
    Satu hal yang Papa tidak pernah tahu kala itu. Aku pergi bukan karena aku marah pada Papa, karena Papa tidak bisa mewujudkan impianku. Saat itu aku selalu berjanji dalam hati, suatu saat aku harus bisa mewujudkan impianku, kuliah dengan hasil keringat sendiri.. Allah SWT mendengar doaku, memasuki tahun kedua aku bekerja, aku bisa mewujudkan impian. Kerja sambil kuliah jadi pilihanku.  Sebuah fase baru tentunya, bukan hal yang mudah menjalani keduanya dalam waktu bersamaan. Tanpa bekerja, aku takkan bisa membayari kuliahku. Jika aku tidak serius kuliah, bagaimana mungkin aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi di masa datang. Aku berusaha mengatur waktu tanpa melupakan kewajiban melaksanakan tugas-tugasku. Mungkin inilah hasil yang kudapat dari kerasnya didikan Papa semasa kecil. Aku bisa membagi waktu, meski harus merelakan sebagian waktu istirahat untuk  kuliah.
       Lagi-lagi semuanya tidak semulus yang aku bayangkan. Untuk menyelamatkan kuliah, aku mesti berpindah pindah tempat kerja, karena tak semua manajemen tempat bekerja bisa paham kondisiku. Aku tak bisa memungkiri jika aku tak bisa memilih salah satu diantaranya.  Bukan karena aku karyawan pembangkang, namun aku memanfaatkan momen habis kontrak, untuk mencari tempat kerja yang normal, tidak seperti yang aku jalani selama ini, bekerja selama 12 jam, dari jam tujuh ke jam tujuh. Tiga perusahaan jadi saksi masa-masa sulitku selama enam semester di kampus ungu. Namun aku tak pernah menyesal, karena semuanya bagian dari perjalanan hidupku.      

Doa Mama dan Papaku yakin menyertai. Aku bisa menuntaskan kuliah tepat waktu. Aku sadar, uang bukanlah jawaban dari segalanya. Memang benar, uang bisa memenuhi apa yang kita butuhkan, namun  kasih sayang dan doa dari kedua orang tua, takkan pernah sebanding dengan berapapun jumlah uang yang kita miliki. Satu lagi pembelajaran yang aku dapat. Aku bersyukur Allah SWT menghadiahkan Mama dan Papa yang begitu tulus menyayangiku. Saat menjelang sidang tugas akhirku, Mama dan Papa puasa untuk mendoakanku. Mereka menyemangatiku, mengingatkanku tak lupa berdoa agar diberikan ketenangan menghadapi dosen-dosen pengujiku. Papa dan Mama pun berjanji, akan meluangkan waktu spesial untukku di hari wisuda nanti. Meski pada kenyataannya mereka tidak bisa menepati janji, karena Mama mesti dirawat di rumah sakit. Bukan hal yang mudah bagiku untuk menerima kenyataan itu.
   “Setiap moment yang dialami,  jadi proses pembelajaran diri. setiap kenangan yang terukir, merupakan kisah terindah yang pernah kualami. Sekecil apapun, setiap kejadian, pengalaman, dan  kenangan takkan pernah bisa hilang dalam sekejap mata. semua itu kan terpatri dalam bingkai kehidupan“.
Itulah yang menjadi motivasiku. Semua yang terjadi adalah proses pembelajaran. “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Begitulah kata yang aku kutip dari sebuah novel yang kubaca. Keterpurukan bukan akhir dari segalanya. Tapi bisa dijadikan momentum untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih baik.  Aku bersyukur Papa dan Mama memberikan kepercayaan untuk merantau. Kebebasan bersyarat, begitulah aku mendefinisikannya. Aku melewati fase demi fase dalam kehidupanku untuk mengerti kehidupan yang aku jalani. Mungkin dulu aku selalu bingung saat Papa mengajarkan beberapa hal. Namun  sekarang aku bisa memahami maksud yang tersirat dari kata demi kata yang dulu tak kumengerti.

Saat ini aku berada jauh dari Papa dan  Mama, aku selalu berdoa agar diberi kesempatan membahagiakan, merawat Papa dan Mama. Semoga Allah SWT mengabulkan pintaku. Syukur yang tak terkira, kebahagiaan yang tak bisa kulukiskan, aku bangga mempunyai Papa dan Mama, anugrah terindah yang Allah SWT hadiahkan untukku. Terima kasih Papa, terima kasih Mama untuk semua pembelajaran yang kuterima.

Perjuangan 3 tahun yang penuh pembelajaran